AUDI LORENZO

AUDI LORENZO

Kamis, 27 Februari 2014

Desa Unik Marandan Weser dan Way Weser di Papua Barat

Desa Unik Marandan Weser dan Way Weser di Papua Barat





Sambut tamu: Tarian Yospan menyambut tamu di Tunduwe Raja Ampat, Papua Barat. Foto JPNN
Pegang Teguh Tradisi Tidak Merokok dan Minum Miras
Makin banyaknya wisatawan yang mengunjungi Marandan Weser dan Way Weser, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, tidak membuat dua desa tersebut terkontaminasi budaya luar. Penduduknya kukuh menjaga tradisi nenek moyang. Mereka tidak merokok dan tidak minum minuman keras (miras).
Laporan M. Ali, JAKARTA
Raja Ampat kini bukan nama asing lagi di telinga. Keindahan alam bawah lautnya sungguh memesona. Wisatawan domestik maupun asing dibuat penasaran ingin membuktikan kecantikan wisata bahari di Indonesia Timur itu.
     Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Kabupaten Raja Ampat terdiri atas empat pulau besar yang masing-masing dipisahkan lautan. Empat pulau tersebut adalah Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Di pulau terakhir itulah terdapat Desa Marandan Weser dan Way Weser yang melegenda tersebut.
    Para wisatawan akan disambut ombak kecil di hamparan pasir putih nan alami. Bunyi suling tambur dan tarian Yospan di atas dermaga berbahan kayu sepanjang 80 meter akan membawa pengunjung menuju dua desa tersebut.
     Menurut Lasarus Ulim, salah seorang tokoh masyarakat Desa Maradan, tradisi warga yang tidak mengenal rokok dan minum miras itu sudah berlangsung sangat lama. Turun-temurun dan dijaga ketat hingga saat ini.
    Lasarus menjelaskan, sebenarnya tradisi mulia tersebut berlaku di seluruh wilayah Raja Ampat. Namun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh budaya dari luar, kini tinggal dua desa itu yang masih memegang teguh aturan kuno tersebut.
    ’’Hanya Marandan Weser dan Way Weser yang mampu mempertahankan tradisi dan kepercayaan nenek moyang itu hingga sekarang,” tutur Lasarus kepada Jawa Pos (grup Radar Lampung) yang pekan lalu mengunjungi dua desa itu. ’’Kami jadi lebih sehat tanpa rokok dan minuman keras,” tambahnya.
    Meski memegang teguh tradisi itu, penduduk Desa Marandan Weser dan Way Weser sangat menghormati wisatawan atau orang asing yang tidak tahu tradisi tersebut. Mereka tak pernah melarang wisatawan yang karena tidak tahu merokok atau minum minuman beralkohol.
    Dalam budaya mereka, tamu adalah raja sehingga harus dihormati. Mereka tak berkeberatan jika ada tamu yang secara ’’tidak sengaja” melanggar tradisi desa itu. Namun biasanya, si tamu akan diberi tahu bahwa di desa tersebut ada tradisi yang tidak membenarkan orang merokok dan minum miras.
    ’’Tidak sopan jika kami harus mengusir atau menegur dengan keras. Sebab, mereka adalah tamu. Beda halnya jika mereka adalah warga asli sini. Maka teguran bahkan pengasingan akan kami berikan jika mereka melanggar apa yang sudah kami anut itu,” tuturnya.
    Bahkan, kata Lasarus, warga pantang mengambil barang milik orang lain. Misalnya, ada barang wisatawan yang tertinggal, pasti dikembalikan. Warga tidak berani melanggar.
    Selain itu, warga kedua desa tidak memakan daging, kecuali ikan. Setiap hari mereka hanya makan sayuran dan buah-buahan. Dalam kepercayaan mereka, hewan juga mempunyai nyawa seperti manusia sehingga tidak dibenarkan untuk dibunuh dan dimakan dagingnya.
    Hal itu mendorong warga untuk giat bercocok tanam dan melakoni pekerjaan sebagai nelayan. Mereka hidup dari dua pekerjaan tersebut. Masyarakat suku Tasdarum yang hidup di dua desa itu pun mengganti tradisi bakar batu yang biasanya menggunakan daging babi dengan hasil kebun mereka. Antara lain menggunakan umbi-umbian hasil panen.
    Cara seperti itu, kata Lasarus, dilakukan warga untuk menyelaraskan dengan alam. Keselarasan yang telah dijalani selama beratus-ratus tahun membuat mereka bisa bertahan hidup tanpa bantuan dari pemerintah. Dua desa itu hampir tidak tersentuh pembangunan. Semua masih alami.
    Kehidupan alam dan manusia menjadi instrumen harmonisasi di dua desa tersebut. Segala sesuatu menjadi irama keseimbangan untuk keberlangsungan hidup. Tersenyum, yang biasanya hanya menjadi basa-basi, menjadi kewajiban bagi mereka.
    Namun, makin banyaknya orang luar yang berkunjung ke dua desa itu akhir-akhir ini sedikit banyak mulai memberikan efek yang kurang baik bagi warga setempat. Sebab, orang luar tidak hanya berwisata. Namun, ada juga yang merusak alam. Misalnya, ada yang menebang kayu hutan sembarangan atau menjarah hasil laut dengan alat peledak.
    ’’Dulu kami mancing bisa dapat 50 kilogram. Sekarang 3-4 kilogram saja yang didapat. Hutan kami juga sudah hancur oleh penebang-penebang liar. Kami hanya bisa menegur, tidak bisa berbuat apa-apa. Kami tak bisa memanfaatkan kearifan lokal,” tutur Spenser Pariri, tokoh pemuda sekaligus anak Kepala Kampung Leopold Pariri.
    Dua desa yang dihuni 73 kepala keluarga atau sekitar 550 jiwa itu kini berganti nama menjadi Desa Surya Paloh Tunduwe. Hal tersebut terjadi setelah ketua umum Partai Nasdem itu mengunjungi dua wilayah terpencil tersebut dan memberikan bantuan. Paloh berjanji membangun sebuah SD dengan 12 kelas, sejumlah rumah lengkap dengan kamar mandi dan pompa air bersih, serta memberikan fasilitas koperasi untuk membantu perekonomian warga.
    Menurut Spenser, desanya memang memerlukan uluran bantuan untuk membangun. Sebab jika tidak ada bantuan, infrastruktur di dua desa itu akan semakin tertinggal.
    ’’Kami kadang malu kepada para wisatawan asing karena desa kami ketinggalan dibanding desa lain," tuturnya.
    Spenser berharap dengan bantuan infrastruktur itu, tingkat pendidikan di kampungnya semakin baik. Kehidupan masyarakat juga bisa makin sejahtera.
    ’’Dulu kami pernah menggarap sawah 20 hektare secara manual. Tapi tidak adanya fasilitas yang memadai, panen kami gagal. Mudah-mudahan dengan bantuan ini panen kami lebih baik," ungkapnya.
    ’’Meski begitu, kami tidak bisa mengubah tradisi yang sudah kami jalani ratusan tahun ini. Inilah prinsip hidup kami," tegasnya. (p2/c1/ary)

sumber : http://www.radarlampung.co.id

Sumber Daya Alam di Papua Indonesia

Sumber Daya Alam Provinsi Papua

Cetak PDF
papua.png
Provinsi ini sangat kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam. Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian Papua, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi dapat memberikan kontribusi ekonomi itu. Di bidang pertambangan, provinsi ini memiliki potensi 2,5 miliar ton batuan biji emas dan tembaga, semuanya terdapat di wilayah konsesi Freeport. Di samping itu, masih terdapat beberapa potensi tambang lain seperti batu bara berjumlah 6,3 juta ton, barn gamping di atas areal seluas 190.000 ha, pasir kuarsa seluas 75 ha dengan potensi hasil 21,5 juta ton, lempung sebanyak 1,2 jura ton, marmer sebanyak 350 juta ton, granit sebanyak 125 juta ton dan hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom.
Karena 90% dari daratan Papua adalah hutan, produk unggulan pun banyak lahir dari belantara yang dipadati lebih dari 1.000 spesies tanaman. Lebih dari 150 varientas di hutan itu merupakan tanaman komersial. Hutan di Papua mencapai 3l.079.185,77 ha, terdiri atas hutan konservasi seluas 6.436.923,05 ha (20,71%), hutan lindung 7.475.821,50 ha (24,05%), hutan produksi tetap 8.171606,57 ha (26,3 %), hutan produksi terbatas 1.816.319 ha (5,84%), dan hutan yang dapat dikonversi 6.354.726 ha (20,45%). Ditambah areal penggunaan lainnya 821.787,91 ha (2,64%). Hutan hutan di provinsi ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan asli daerah, Contoh, sebanyak 323.987m3, kayu bangunan/timber sebanyak 1.714 m3, kayu balok olahan/block board sebanyak 1.198 m3, triplek/plywood sebanyak 88.050 m3 dan kayu olahan/chips sejumlah 45.289 m3.
Di sektor perkebunan, dari 5.459.225 ha lahan yang ada, tak kurang dari 160.547 ha sudah dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat (PR) maupun perkebunan besar (PB), tenaga kerja dengan total produksi 62.153 ton. Komoditas unggulan pada 2005 dengan total produksi 12.347 ton (19,87%), sawit dengan produksi 31.021 ton (49,91%), kakao dengan produksi 11.363 ton (18.28%), kopi Arabic produksi 2.583 ton (4.16%), buah merah dengan produksi 1.889 ton (3,04%) dan karet dengan total produksi 1.458 ton (2,35%). Pada 2005 kayu mencapai 20.711 ton dan Jayapura dengan produksi 2.444 ton pada 2005. produksi sayur mayur selama 2005 hanya mencapai 13,99 ton, menurun dibandingkan dengan 2004 yang mencapai 25,78 ton.
Provinsi ini memiliki lahansawah beririgasi teknis seluas 3.845 ha pada 2006, beririgasi nonteknis 3.696 ha. Total saluran irigasi primer mencapai 1.984 km, irigasi sekunder 23,45 km sementara irigasi tersier 4,25 km. Sawah sawah tersebut dapat menghasilkan 61.922 ton padi, meningkat dibanding dua tahun terakhir mencapai 61.750 ton. Pada saat Panen Raya Padi di Merauke, padatanggal 5 April 2006, Presiden berharap bahwa: ”Merauke menjadi sentara pertumbuhan baru, bukan hanya untuk padi, tetapi juga untuk sektor lainnya”. Presiden berpesan, ... ”ketika terjadi pertumbuhan sawah, pertumbuhan tebu, pertumbuhan kelapa sawit, nantinya pendidikan dan lain lain, tenaga kerja dan lain-lain, tolong sekali lagi diperhatikan dan ditingkatkan kesejahteraan penduduk asli sehingga betul-betuk kesetaraan yang baik, dengan demikian dapat meningkatkan persaudaraan dan harmoni diantara semua warga yang ada di daerah ini”.
Di sektor perikanan, memiliki kekayaan yang kurang besar di sepanjang 1.170 mil garis pantai yang dipenuhi ribuan pulau pulau kecil. Provinsi ini memiliki terumbu karang terkaya dan terbaik di dunia. Hutan bakau terluas dan terbaik di dunia, dengan berbagai jenis ikan mulai dari pelagis besar, kecil, kerapu, udang, teripang, kerang, dan lain lain. Potensi lestari perikanan Papua sebesar 1.404.220 ton per tahun, dengan produksi tahun 2005 mencapai 209.210,3 ton, meningkat 13,29% dibanding produksi 2004 yang hanya mencapai 180.612,4 ton. Dari produksi perikanan, 95,83% merupakan hasil produksi perikanan laut dengan nilai produksi selama 2005 mencapai Rp. 2.215 miliar atau menurun 44,86% banding 2004 yang mencapai Rp 2.451 miliar.
Populasi ternak besar dan kecil selama tahun 2005 umumnya naik. Ternak kerbau pada 2005 naik 14,54% dari 1.131 ekor pada 2004 menjadi 1.292 ekor pada tahun 2006, sementara ternak kuda dari 1.576 ekor pada 2004 menjadi 1.501 ekor pada 2005 lalu meningkat menjadi 2.061 ekor pada 2006. Kenaikan persentase dialami ternak sapi (8,6%), kambing (5,37%) dan babi (19,50%). Populasi ternak kecil, antara lain ini kampung naik 18,99%, ayam pedaging naik 90% dan ayam ras petelur meningkat 19,58%.
sumber : http://www.indonesia.go.id

Selasa, 25 Februari 2014

Di Wamena ada Mumi ?

Sebelumnya, saya telah memposting cerita rakyat Indonesia yang berjudul Asal Usul Nama Wamena. Ketika googling sumber mengenai Wamena, saya menemukan sebuah gambar seperti dibawah ini.

Pada awalnya, saya menduga, foto tersebut adalah patung kayu seperti yang dibuat oleh kebanyakan masyarakat Papua. Nyatanya, saya salah. Foto tersebut adalah MUMI!

Mumi?!

Ya, mumi, seperti mumi di Mesir atau mumi lainnya. Sebuah fakta yang menurut saya menarik. Kenapa? Indonesia gitu loh. Seumur-umur saya membaca, tak pernah sekali pun saya menemukan fakta bahwa Indonesia punya mumi. Wow...

Mumi di Wamena
Oke, ini postingan saya tentang mumi di Wamena, yang informasinya saya kurasi dari berbagai sumber.

***

Jadi, di Wamena terdapat dua mumi yang paling terkenal. Salah satunya mumi Wim Motok Mabel. Dalam bahasa lokal, Wim berarti perang. Motok berarti panglima. Dan Mabel adalah nama aslinya. Mumi ini berada di Desa Yiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua.

Usia mumi ini? Jangan ditanya, ratusan tahun. Satu sumber menyebutkan angka 378 tahun, sumber lain menyebutkan 278 tahun. Ya, perbedaan usia tidak perlu diperdebatkanlah...

Sebuah pertanyaan tentang menggelitik benak kita semua tentang bagaimana cara memumifikasi jenazah disana?

Kebanyakan referensi menyebutkan bahwa proses mumifikasi adalah dengan pembalseman dengan racikan tertentu. Tapi, mumi di Wamena melalui proses mumifikasi yang lebih tradisional lagi.

Jadi, jenazah diasapi selama 200 hari di dalam honai (rumah adat Papua) khusus, yang jauh dari area pemukiman. Proses ini dibarengi dengan terus dilakukan pembaluran lemak babi ke tubuh jenazah. Nanti setelah terbentuk baru dipindahkan ke rumah keturunannya. Dan tetap terus diasapi dan dibalur hingga kini untuk perawatan.

Berikut beberapa foto eksklusif yang saya himpun dari detiktravel.

Mumi di Wamena
Mumi di Wamena 
Mumi di Wamena menjadi magnet bagi para pelancong. Untuk berfoto bersama mumi ini, pengunjung diharuskan merogoh kocek sedikit dalam. Menarik bukan ?

sumber : http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com

Asal-Usul Nama Raja Ampat

Asal-usul Nama Raja Ampat

Masyarakat setempat percaya jika di Teluk Kabui Kampung Wawiyai, pernah hidup sepasang suami istri yang menemukan enam telur naga.

Cerita ini berawal dari perjalanan keduanya mencari makan di tengah hutan. Saking asyiknya, tanpa terasa kaki mereka telah melangkah sampai ke tepi Sungai Waikeo. Di mana, mereka kemudian menemukan enam telur naga.

Saat membawa keenam telur naga tersebut, keduanya tak memiliki firasat apapun. Dipikirnya telur-telur itu hanyalah telur biasa saja. Makanya, setelah dibawa pulang, mereka menyimpannya di dalam kamar sebelum dimasak. Tapi, belum sempat dimasak, empat dari enam telur-telur itu menetas. Dari dalam keluar sosok manusia. Empat laki-laki dan satu wanita. Nama mereka masing-masing adalah War, Betani, Dohar, Mohammad, dan Pintolee (yang wanita).

Seiring berjalannya waktu, kelima anak ini tumbuh. Pintolee kemudian didapati oleh kakaknya hamil di luar nikah. Dia dihanyutkan dalam kulit bia (kerang besar) sampai terdampat di Pulau Numfor.

Keempat kakak laki-laki Pintolee pun kemudian diangkat menjadi raja untuk empat pulau yang besar. Yaitu: War diangkat raja di Waigeo, Betani diangkat di Salawati, Dohar di Lilinta, dan Mohamad di Waiga. Sedangkan, telur naga yang tidak menetas hingga saat ini masih disimpan dan mendapat penghormatan khusus dari masyarakat setempat.

Nah, empat raja yang mendiami pulau-pulau utama itulah yang kemudian dijadikan dasar penamaan Raja Ampat ini.[]

sumber : http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com

Senin, 24 Februari 2014

Kebiasaan masyarakat Papua memakan buah pinang


Kebiasaan Masyarakat Papua Memakan Buah Pinang


Masyarakat Papua sangat menggemari memakan buah pinang yang menghasilkan air ludah berwarna merah itu bisa membuat lingkungan menjadi kotor, Mereka yang makan pinang ditambah campuran lainnya, sama seperti orang makan sirih yang menghasilkan air ludah berwarna merah. Biasanya air ludah itu dimuntahkan begitu saja di jalan, atau di mana saja. Bisa dibayangkan kalau air ludah itu dibuang di sembarang tempat  maka semua jalanan dan tempat-tempat santai akan berwarna merah, dinding-dinding juga berwarna merah akibat air ludah yang berwarna merah itu.

Jalan-jalan di sekitar terminal Bandara, atau di Kota Jayapura sendiri sebagian memang berwarna merah karena masyarakat dengan seenaknya membuang ludah di jalan atau tempat-tempat lainnya. Kesan jorok pasti terasa, dan kalau tahu penyebab warna merah itu adalah air ludah, maka kita akan hati-hati melangkah agar tidak menginjaknya.
Ada yang mengatakan, ludah berwarna merah itu tidak hanya dibuang di jalan, tapi kadang-kadang dengan sengaja dibuang ke bangunan yang baru dicat, atau lantai yang baru dibangun di sebuah bangunan baru. Yang bisa dilakukan hanyalah menempel stiker seperti larangan makan pinang itu. Dan itu pun rasanya belum tepat karena yang dilarang seharusnya membuang air ludah sembarangan, bukan tradisi makan pinang itu.

Kebiasaan membuang ludah hasil makan pinang itu sama seperti yang terjadi di Myanmar. Penduduk di sana juga terbiasa makan sirih yang dijual di pinggir jalan. Seperti merokok, setiap orang dapat membeli sirih untuk sekali makan. Karena itu, jangan heran di Myanmar jalan-jalan penuh dengan warna merah karena ludah berwarna merah dibuang sembarangan di jalan-jalan.

Kesan yang timbul mengunjungi Bandara Sentani memang sangat tidak nyaman. Semua toilet yang ada di Bandara itu dalam keadaan rusak, walau kata petugasnya sedang direnovasi. Toilet yang ada di terminal kedatangan, dan kebarangkatan semuanya tergenang air. Apalagi yang berada di luar terminal, semua toiletnya sedang ditutup karena alasan sedang dalam perbaikan. Kita khawatir genangan air yang ada di toilet itu selain air kencing dan air lainnya, pasti di dalamnya juga tercampur dengan air ludah yang berwarna merah dari pemakan pinang tersebut.

Dan lebih tidak menarik lagi di hampir semua Bandara di Papua, banyak anggota masyarakat yang bisa masuk sampai ke pinggir landasan tempat pesawat parkir, seperti di Bandara Sentani. Petugas memang berusaha untuk mencegah mereka masuk dan menghalau mereka untuk keluar dari daerah yang sebenarnya tertutup tersebut. Tapi mereka tetap tidak mau keluar dari lingkungan yang terbatas tersebut. Bagaimana faktor keselamatan penerbangan dengan adanya kelonggaran seperti itu.

Pemerintah memang telah berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, dan masyarakat juga sebenarnya harus menjaga dan memelihara apa yang telah dibangun oleh pemerintah tersebut. Kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan kita, apalagi Papua merupakan salah satu tujuan wisatawan mancanegara, sehingga harus kita jaga kebersihannya dengan tidak membuang ludah sembarangan.
 
sumber : http://kangmini.blogspot.com

Tradisi Potong jari di Papua Indonesia

Tradisi Potong Jari

TRADISI POTONG JARI, TRADISI BERKABUNG DI PAPUA
Kesedihan saat telah ditinggal pergi oleh orang yang cintai dan kehilangan salah satu anggota keluarga sangat perih.
Lain halnya dengan masyarakat pegunungan tengah Papua yang melambangkan kesedihan lantaran kehilangan salah satu anggota keluarganya yang meninggal tidak hanya dengan menangis saja. Melainkan ada tradisi yang diwajibkan saat ada anggota keluarga atau kerabat dekat seperti; suami,istri, ayah, ibu, anak dan adik yang meninggal dunia. Tradisi yang diwajibkan adalah tradisi potong jari. Jika kita melihat tradisi potong jari dalam kekinian pastilah tradisi ini tidak seharusnya dilakukan atau mungkin tradisi ini tergolong tradisi ekstrim. Akan tetapi bagi masyarakat pegunungan tengah Papua, tradisi ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Mereka beranggapan bahwa memotong jari adalah symbol dari sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan sebagian anggota keluarganya.
Bisa diartikan jari adalah symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang ada ditangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu Ibu jari. Akan tetapi jika dicermati perbadaan setiap bentuk dan panjang memiliki sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Satu sama lain saling melengkapi sebagai suatu harmonisasi hidup dan kehidupan. Jika salah satu hilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah kekuatan.
Alasan lainya adalah "Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik" atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu fam/marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya (Hisage, Yulianus Joli, 07:2005). Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat pegunungan tengah Papua. Hanya luka dan darah yang tersisa. Pedih-perih yang meliput suasana. Luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga baru sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan papua memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.

Menurut informasi yang telah berkembang, bahwa pemotongan jari umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pemotongan dilakukan oleh anggota orang tua keluarga laki-laki atau perempuan. Jika tersebut kasus yang meninggal adalah istri yang tak memiliki orang tua, maka sang suami yang menanggungnya.
Tradisi potong jari juga dilakukan oleh para Yakuza di Jepang. Tradisi ini muncul dari kaum Bakuto yang berartikan kaum penjudi. Tradisi potong jari disebut dengan yubitsume. Berbeda dengan yang ada di Papua pemotongan jari sebagai penolakan musibah yang merenggut nyawa atau bentuk berkabung karena anggota keluarga meninggal dunia. Akan tetapi yubitsume (potong jari) dilakukan sebagai penyesalan atapun sebagai bentuk hukuman. Awalnya hukuman yubitsume bersifat simbolik, karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat si empunya tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan kuat. Hal ini menjadi simbol kesungguhan dan ketaatan terhadap pemimpin.
Tradisi potong jari di Papua dilakukan dengan berbagai cara ada yang menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Cara lainya yaitu mengikat jari dengan seutas tali sampai beberapa lama waktunya sehingga menyebabkan aliran darah terhenti dan pada saat aliran darah berhenti baru dilakukan pemotongan jari.

Selain tradisi pemotongan jari, ada juga tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh kelompok atau anggota dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai konotasi berarti setiap orang yang telah meninggal dunia telah kembali kea lam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.

Tradisi potong jari pada saat ini belom ada sumber yang mengatakan bahwa masih berlangsung tradisi potong jari, namun belum ada sumber juga yang menyebutkan tradisi ini telah punah dan tidak dilaksanakan lagi. Bisa dikatakan ada namun jarang ditemui atau dilakukan dikarenakan mungkin karena pengaruh agama yang mulai berkembang di sekitar daerah pegunungan tengah Papua.

sumber : http://kebudayaanindonesia.net

Beberapa nama-nama bahasa daerah di Papua Indonesia

Beberapa Nama-nama Bahasa Daerah di Papua Indonesia


haloo!